Skip to content

A reason why

Tadi siang aku meeting dengan Mayang.

Kita meeting mengenai satu project yang sangat kami rindukan untuk dikerjakan.

Ingin membuat festival pertunjukan seni untuk teman-teman disabilitas.

Tapi di meeting tadi rasanya aku sedang berdiri menghadapi ombak setinggi 10 meter.

Besar sekali. Mendadak takut sekali.

Tapi, kalau kata Mayang tergantung kita…

Alasan kuat mengapa kita ingin membuat hal inilah yang bisa melawan ombak 10 meter di depan muka kita.

Tanganku lemas dan aku sakit perut.
Beberapa otot tanganku mulai nyeri lemas.
Ini biasa terjadi jika aku terlalu takut menghadapi sesuatu.

Terlebih lagi ketika aku teringat, tahun lalu aku sudah merancang berbagai hal untuk festival seni ini, tapi aku hentikan karena mempertanyakan diriku sendiri.

” Apakah ini dibuat karena egois hati Helga atau benar-benar tulus untuk membantu orang lain? “

Saking takutnya dengan pertanyaan itu, aku memilih tidak melanjutkan rencanaku. Lebih baik aku menguji hatiku dulu dengan teliti.

Sampai akhirnya tiba momentum ini.

Secara aneh, aku dan Mayang mempersiapkan proposal pertunjukkan untuk suatu acara. Membuat kami harus riset ke teman-teman Tuli.

Setelah beberapa kali riset dan bertanya langsung, ternyata ide mereka sangat banyak dan brillian untuk diberikan panggung menunjukkan bakat seni yang mereka punya.

Aku kembali bersemangat… Tapi sangat takut di saat yang bersamaan.

Tadi Mayang membantu membuatkan siklus ekosistem yang baik, mulai merunutkan tujuan dan dampak apa yang ingin dicapai dari festival seni disabilitas ini.

Menjelang akhir meeting, kami harus menuliskan sesuatu di kolom ” Next step “

Mayang menuliskan sesuatu yang bikin diriku blank.

” Helga merenung lalu sharing.”  tentang alasan Helga punya ide dan rencana ini, mengapa Helga ingin membuat semua ini…


The reason why…

Saat menuliskan ini… aku bingung mulai darimana.

Apa sebenarnya ini adalah hal yang tidak perlu aku kerjakan?

Aku mulai takut… Takut membayangkan semua kemungkinan yang terjadi.

Kemudian aku membaca draft tulisanku terdahulu.
Draft tahun lalu, ketika aku ingin memulai semua ini.

Aku beri judul …

PENCARIAN IDENTITAS

Bagi saya, saya sangat sulit untuk menemukan identitas.

Seringkali, kita bertumbuh di lingkungan yang mungkin merusak identitas kita. Membuat kita yang sudah seharusnya berharga dan masing-masing memiliki tugas penting untuk berdampak bagi orang lain, kita melupakannya.

Kita melupakan pentingnya peran kita.

Karena pikiran kita tertanam kata-kata yang mungkin menyakiti hati kita, kegagalan-kegagalan selama ini, dan standar social di masyarakat yang membuat kita rendah diri.

Aku yakin, hal ini juga dirasakan oleh teman-teman disabilitas.

Saya punya latar belakang seorang korban pelecehan seksual. Hal yang mampu membuat saya terperosok dalam dengan luka saya, tidak mengenal identitas diri saya, merasa tidak berguna, menjalani hidup begitu saja, tidak tau tugas saya di dunia.

Saya tau, mungkin banyak teman-teman disabilitas yang memiliki rasa rendah diri karena standar sosial yang ada di masyarakat. Rasa rendah diri tersebut membuat mereka tidak paham dengan identitas dan apa pentingnya peran mereka di dunia.

Oleh karena itu, saya berharap, dengan adanya ………………………….., mereka yang selama ini tidak tahu apa identitas mereka, bingung, mungkin bisa tercerahkan atau tersadar bahwa banyak hal yang bisa mereka lakukan, terlebih dalam bidang seni.


Malam ini aku kembali merenung…

Itukah alasanku?

Itukah bahan bakarku yang tak akan habis walau dibakar dengan berbagai tantangan?

Aku harus merenung… Apakah benar ini panggilan yang Tuhan mau aku kerjakan atau tidak.

Karena rasanya terlalu besar, Helga terlihat sangatlah kecil… Rasanya tidak mampu…

Tapi barusan hatiku juga bilang :

” Bukannya kamu percaya kalau Tuhan hidup di dalam kamu adalah Tuhan yang sangat besar?”

yang kuasanya sangatlah besar? “

Bukankah ketika kamu merasa lemah dan tak mampu, kuasa Tuhan yang bekerja?”

” Malah bagus kan? Artinya ini pekerjaan tangan Tuhan, bukan pekerjaan Helga seorang.”

” Jadi Helga pun tidak bisa membanggakan diri sama sekali. Karena tanpa penyertaan Tuhan, project ini tidak akan jalan.

” Sudah Gha, berjalanlah. Jangan takut.

Di dalam kasih tidak ada ketakutan. “

Kalau kamu benar-benar ingin mengasihi orang lain, membantu orang lain, tidak perlu takut. “

Pasti Tuhan sertai dan bekerja bersamamu…”


Huah… UAAAH!

Ya Tuhan….

1 thought on “A reason why”

  1. Pingback: #quiettime : Daniel 10 – HELGA THERESIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *