Skip to content

#quiettime : Mendengar, memperkatakan, juga melakukan

MARKUS 12 : 38-40

Hai, apa kabarmu? Semoga dalam keadaan baik yaa.

Udah seminggu lebih aku tidak menulis, rasanya kangen nulis sekaligus menyadari ada rasa kosong yang aku rasakan sampai rasanya ga bisa menulis atau memperhatikan orang lain.

Baru semalam, pas komsel Clay, aku sadar kalau yang aku alami ini adalah rasa yang mulai kosong dan butuh diperhatikan orang lain.

Pas aku sharing soal perasaan ini, Kak Yosi bilang satu hal yang bikin aku kerasa “dor” di hati (karena terlalu tepat). Kurang lebihnya seperti ini (ada tambahan dari kata-kataku juga) :

” Kadang kita mikir ‘masalah kita aja belum selesai, gimana mau mendengarkan orang lain?’

” Tapi Tuhan mengizinkan ada orang yang datang kepada kita untuk cerita, itu bukan sebuah kebetulan.”

” Kita kadang suka lupa, itu artinya masalah kita udah ada di tangan Tuhan dan Tuhan sudah urus itu semua. Makanya kita dipercaya untuk bisa handle masalah/ cerita orang lain, untuk membantu orang tersebut.

Seringkali kita terlalu kekep masalah kita, fokus kesitu, sampai akhirnya fokus ke diri sendiri dan tidak memperhatikan / melayani orang lain.

Padahal semua masalah kita sudah aman di tangan Tuhan. Ini waktunya kita taking care orang lain yang belum paham konsep itu. “

Aku pas denger ini, cuma bisa ketawa karena terlalu benar.

Aku sibuk dengan pikiranku sendiri, masalahku, memeluk masalahku, sampai lupa kalau semua itu sudah diurus sama Tuhan.

Urusanku selanjutnya adalah jadi berkat dimanapun aku berada.

So let’s go, mari merenung πŸ™‚


Judul dari renungan kali ini adalah Jangan meniru cara hidup ahli-ahli Taurat

Karena cukup singkat, aku masukkan kesini versi Terjemahan Sederhana Indonesia :

Waktu Yesus masih mengajar di situ, Dia berkata, β€œHati-hatilah! Kalian jangan mencontoh ahli-ahli Taurat.

Mereka suka pamer kekayaan dan kesalehan dengan memakai jubah yang indah di tempat umum. Mereka senang waktu orang-orang memberi salam kepada mereka dengan penuh hormat. 

Mereka juga suka duduk di kursi-kursi yang paling depan di dalam rumah-rumah pertemuan atau di pesta-pesta makan. 

Padahal mereka suka merampas harta para janda. Lalu untuk menutupi kejahatan itu, mereka berdoa panjang-panjang dalam kumpulan umat TUHAN, supaya orang lain mengira mereka orang baik. Akibat perbuatan itu, Allah pasti akan memberikan hukuman yang sangat berat kepada mereka.”


HELGA LEARNS

Di versi Easy Version, dituliskan seperti ini

As Jesus was teaching the people, he said, β€˜Be careful not to do the same as the teachers of God’s Law.

They want people to think that they are important.

So they walk about in beautiful long clothes.

They like people to praise them in the market place. They want to sit in the best seats in the meeting places. They choose the most important places at special meals. 

But these men take things away from women after their husbands have died, even their houses.

Then they pray for a long time so that other people will praise them. Because they do these things, God will punish those men much more than other people.’

Di versi Easy ini, kata-kata yang dipakai membuat perlakuan orang-orang Farisi terasa dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Semua orang ingin dirinya dianggap penting, ingin mendapatkan pujian, penghargaan, pelayanan terbaik.

Apalagi di zaman sekarang ini, semua berlomba-lomba memberikan impresi terbaik, gambaran terbaik dari dirinya melalui media internet.

Yang seringkali impresi baik di dunia maya tersebut belum tentu sama dengan sikap saat orang tersebut ditemui secara langsung.

Seringkali disebut pencitraan.


HELGA CAN DO

Bacaanku hari ini menegur diriku sendiri untuk stay true, stay the same di dalam Tuhan.

Aku di media sosial terlihat baik, itu juga yang perlu dirasakan oleh orang-orang di lingkungan terdekatku.

Berusaha tidak bermuka dua, tidak munafik. Kata-kata baik yang aku ucapkan di luar rumah, aku tuliskan, atau apapun itu, aku sendiri perlu melakukannya.

Percuma juga kan kalau dikenal orang baik, ramah, tapi di rumah tidak berlaku baik dengan keluarga, tidak rapih, tidak disiplin.

Kadang ada juga perasaan “lebih pintar” dari orang lain, yang secara tidak sadar menghakimi orang lain karena ketidaktahuan mereka.

Itu sama saja dengan yang dilakukan orang Farisi ini :

But these men take things away from women after their husbands have died, even their houses.

Main hakim sendiri, bertindak semena-mena karena merasa posisi mereka lebih baik daripada orang lain.

Yap, berusaha melakukan apapun yang sudah Tuhan ajarkan. Mendengar, memperkatakan, juga melakukan.

Sekian teman-teman. Selamat hari Selasa yaa.

Semoga apapun yang kamu kerjakan hari ini, menjadi berkat untuk sesamamu.

Sekiaan. Terima kasih. I love you all πŸ™‚



https://www.bible.com/id/bible/320/MRK.12.TSI

https://www.bible.com/id/bible/27/MRK.12.BIMK

https://www.bible.com/id/bible/97/MRK.12.MSG

https://www.bible.com/id/bible/306/MRK.12.TB

https://www.bible.com/id/bible/1588/MRK.12.AMP

https://www.bible.com/id/bible/306/MAT.6.33-34.TB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *